Kamis, 10 Mei 2012

Kisah Seorang Ibu

Ketika seorang Ibu yang menafkahi anak-anaknya sendirian, yang tak pernah kenal kata menyerah dan tegar tiap mendapat ujian dari sang maha penguasa. yap! Kali ini gua bakal posting tentang perjuangan seorang Ibu yang sangat KUAT. Yok kite simak :)


Berawal dari sebuah keluarga yang sangat harmonis, tentram, damai, akur, dan sangat rukun. Ningrum (sebut saja namanya begitu) seorang Ibu yang keras dan tidak kenal kata menyerah dalam hidup. Syahron (sebut saja namanya begitu) seorang Bapak yang pintar, namun tidak mau berusaha dalam bekerja dan kurang bertanggung jawab. Putri dan Azza (anak dari kedua orang tua itu) keduanya berbeda karakter namun yang pasti mereka sayang pada orang tuanya.

Tinggal satu rumah, menjalani hidup sebagai mana mestinya sebuah keluarga. Keluarga yang tentram, tenang, damai dan nyaman pastinya. Saling menyayangi satu sama lain, sampai suatu hari kejadian yang tidak diinginkan oleh setiap kelurga pun terjadi.

Keluarga mereka mulai dipenuhi dengan berantem, keributan tiap saat, sudah tak ada lagi kata-kata indah seperti dahulu! Azza dan Putri hanya bisa pasrah jika Ibu dan Bapak mereka harus berpisah, sedih memang tapi mau diapakan? Mereka cuma bisa berharap suatu saat orang tua mereka bisa bersatu kembali.

Tapi harapan itu tak bisa diwujudkan, karena kedua orang tua mereka sudah tidak cocok lagi. Azza dan Putri pun memilih tinggal bersama Ibu mereka, karena memang dari kecil mereka lebih dekat dengan Ibu mereka.

Memulai dari mengikuti orang yang mengontrak dikontrakan orang tua Ibu Ningrum, dia menafkahi kedua anaknya. Walau pun upah tiak seberapa, hinaan dari oarang-orang sekitar tentang dia, kesirika disekitar Ibu itu tetapi tidak pertnah ada kata MENYERAH yang keluar dari mulut Ibu Ningrum. Sampai akhirnya, usaha (Bubur Ayam) itu berpindah tangan ke tangan Ibu Nungrum. Senang pastinya, bisa mendapatkan uang lebih dari usaha yang di keluti. Yaaa, tapi labih melelahkan dari kerajaan kemarin tetapi tetap aku tidak pernah mendengar kata menyerah dari mulut Ibu itu. 

Putri pun sering membantu Ibunya tiap hari sabtu dan minggu kalau dia libur sekolah. Mana ada yang tega melihat Ibunya lelah sendirian apalagi umur sudah tidak muda lagi. Adiknya pun sama membantu Ibunya, mereka bersama mencari nafkah seHalal mungkin demi kelanjutan sekolah mereka nanti.

Sungguh bangga jika aku jadi anak dari Ibu itu. Umur  dan Status tidak menjadi halanagan untuk menafkahi kedua anaknya. Mudah-mudahan kisah tadi bisa jadi pelajaran kecil untuk kita semua. Hargai dan selalu hormati Orang tua kita walau bagaimana pun mereka. :):):):)








Create : Archia Ramadhanisa Putri

1 komentar:

  1. Semoga kalian mendapat hikmah dari apa yang kalian alami, dan menjadi kebanggan untuk ibu kalian.. 👍👍👍

    BalasHapus